Sunday, March 21, 2010

HIPERAKTIVITAS

Pengertian Hiperaktivitas
Hiperaktivitas merupakan aktivitas motorik yang tinggi dengan ciri-ciri aktivitas selalu berganti, tidak mempunyai tujuan tertentu, berulang dan tidak bermanfaat (Hallahan & Kauffman, 1994). Anak hiperaktif lebih banyak mengalami gerakan mata diluar tugasnya, sehingga gerakan menoleh lebih banyak dibandingkan anak yang lain. Gejala tersebut akan berkurang sesuai denagn bertambahnya usia dan sebagian akan menghilang pada waktu masa remaja. 2. Penyebab Hiperaktivitas Beriktu ini adalah faktor-faktor penyebab hiperaktif pada anak :

a. Faktor neurologik 1. Perilaku hiperaktif yang lebih tinggi didapatkan pada bayi yang lahir dengan masalah-masalah prenatal seperti lamanya proses persalinan, persalinan dengan menggunakan alat bantu, dibandingkan dengan kehamilan dan persalinan normal. Di samping itu faktor-faktor seperti bayi yang lahir dengna berat bdan rendah, ibu yang terlalu muda, ibu yang merokok dan minum alkohol. 2. Terjadinya perkembangan otak yang lambat. Faktor etiologi dalam bidang neurologi yang samapi kini banyak dianut adalah terjadinya disfungsi minimal otak (DMO) dan minimalnya dopamin. Dopamin merupakan zat aktif yang berguna untuk mmemelihara proses konsentrasi. 3. Beberapa studi menunjukan terjadinya gangguan fungsi darah di daerah tertentu pada anak hiperaktif, yaitu di daerah striatum, daerah orbital-prefrontal, daerah obrital-limbik otak, khususnya sisi otak sebelah kanan b. Faktor toksik Beberapa zat makanan seperti salisilat dan bahan-bahan pengawet memiliki potensi untuk membentuk perilaku hiperaktif pada anak. Di samping itu, kadar timah dalam serum darah anak yang meningkat. Ibu yang merokok dan mengkonsumsi alkohol, terkena sinar rontgen pad saat hamil juga dapat melahirkan calon hiperaktif. c. Faktor genetik Didapatkan hbungna yang tinggi dari hiperaktif yang terjadi pad akeluarga dengan anak hiperaktif. Kurang lebih sekitar 25-35 % dari orang tua dan saudara yang masia kecilnya hiperaktif akan menurun pada anak. Hal ini juga terlihat pada anak kembar. d. Faktor psikososial dan lingkungan Pada anak hiperaktif sering ditemukan hubungan yang dianggap keliru antara orang tua dengan anaknya, misalnya anak kurang diarahkan. Kurang mengontrol diri, menurut kehendak sendiri, sering gagal dalam pekerjaan, materi yang disampakan kurang menarik, diterangkan tidak mengerti, ingin bebas, kurang perhatian, anak kurang diarahkan dari di rumah, kelainan syaraf, fisik, perilaku konsultasi. 3. Gejala-gejala yang tampak
Gejala hoperaktif dapat dilihat dari perilaku anak yang tidak bisa diam. Duduk dengna tenang merupakan suatu yang sulit dilakukan. Ia akan bangkit dan berlari-lari, berjalan ke sana kemari, bahkan memanjat-manjat. Disamping itu, ia cenderang banyak bicara dan menimbulkan suara berisik, kurang dapat mengontrol diri, kurang perhatian atau konsentrasi, keinginan untuk bebas yan kuat, atau berbuat menurut kehendak sendiri. Berikut ini gejala yang tampak pada anak hiperaktif yang dapat dilihat dari pola tingkahnya baik di rumah yang diamati oleh orang tua dan di sekolah yang diamati oleh para pendidik.
a. Di Rumah 1. Anak selalu bergerak. Ibaratnya dari bangun tidur sampai tidu kembali, tidak ada waktu untuk
“diam”.
 2. Tingkah laku anak sulit diduga, khususnya emosinya: lebih seperti rewel tanpa sebab, mudah
“meledak” hanya oleh sedikit masalah, ngambek. Bila bermain, anak cepat sekali bosan. 4. Keinginan anak harus segera dipenuhi, karena toleransinya rendah terhadap perasaan frustasi. 5. Anak sulit berkonsentrasi sewaktu menyelesaikan tugas, 6. Sering bertingkah laku seperti digerakan oleh motor. 7. Sering kesulitan melewati waktu luang dengan tengang. 3. b. Di Sekolah 1. 2. 3. Anak tidak mampu berkonsentrasi, perhatiannya mudah beralih. Gagal menyelesaikat tugas Suka berjalan-jalan dalam kelas, lari berputar dan gerak berlebihan pada situasi yang tidak tepat, seklaipun bukan waut istirahat. 4. Sulit duduk manis atau duduk dengan konsentrasi terhadap sesuatu. Reaksi yang sering dilaukan adlah suka menoleh kesana kemari, badan, tangan, atau kaki yang selalu gerak 5. Mengganggu kelas karena sering interupsi : berteriak memanggil pendidik, teman-temannya tanpa ada tujuan yang jelas. 6. Bila anak merasa lelah, maka terkadang sering melamun pada saat mengiktui program kegiatan belajar, sehingga apa yang dijelaskan oleh pendidik tidak mengerti. 7. Sering gugup atau gelisah, menggerakan tangan atau kaki atau ribut ketika disuruh duduk dalam kelas. 8. tidak mengikuti atau mengabaikan intruksi pendidik. Anak berperilaku semaunya. 9. Sulit untuk disiplin, kesulitan menunggu giliran seperti barisa saat masuk kelas. 4. Pengaruh Hiperaktivitas Terhadap Perkembangan Anak
Pengaruh yang konkrit pada anak hiperaktif adalah kurangnya perhatian terhadap pelajaran, anak sering gagal pada tugas-tugas yang diberikan. Selain itu, dalam kelas anak hiperaktif mengganggu proses belajar mengajar karena ia sering berteriak, berjalan, berlari. Pengaruhnya pada anak lain adalah merasa terganggu atau bahkan menjadi pemicu anak yang lain ikut berperilaku hiperaktif. Beberapa contoh yang sering terjadi di sekolah : a. Di sekolah ia tidak dapat duduk diam, berlari, berjalan, berputar kesana-kemari, berceloteh atau berbicara berlebihan. b. Ketika kegiatan senam, beris berbaris atau kegiatan kelompok lainnya, ia seolah muncul sendiri dengan gerak tubuh yang berbeda dengan yang lain dan bicara terus. c. Saat kegiatan belajar berlangsung sering memotong pembicaraan atau menyela, menginterupsi atau memaksa orang lain. d. ketika absen atau menunggu giliran salaman dengan pendidik ia amat sulit bersabar dan menunggu 5. Intervretasi
a. Hiperaktivitas sebagaian besar disebabkan oleh gangguan fisik, maka dalam sekolah diharuskan punya kelas khusus, karena memerlukan pengganan yang multidisipliner yaitu pendidik, orang tua dan ahli seperti dokter atau psikolog anak. b. Tetapi bila ada anak yang mengalami hiperaktivitas, pihak sekolah menyediakan neurolog, psikolog anak, dokter anak pembimbing khusus bagi anak yang hiperaktif, pendidik bersikap sabar dan program kegiatan yang dilakukan harus bersifat khusus. c. Pada saat pelaksaan proses belajar, pendidik hendaknya menggunakan teknik penguatan, yaitu menghargai setiap usaha dan keberhasilan yang dicapai oleh anak. Pendidik harus menciptakan situasi dan kondisi yang menyebabkan anak merasa berhasil, misanya memberikan tugas-tugas yang mungkin dapat dislesaikan anak dengan mudah. Dengan cara demikian anak akan merasa senang mengerjakan tugas sehingga anak tidak cepat mengalihkan kegiatan dengan kegiatan yang lain

Perilaku Hiperaktif Pada Anak

Imad (5 tahun) tidak disukai teman-temannya. Orang tua sering menjadi khawatir jika Imad mendekati anak-anaknya. Mereka yang mengamati tingkah-laku Imad sering menyatakan bahwa ia hiperaktif. Apakah sebenarnya perilaku hiperaktif ? Bagaimana cara mengatasinya ?
Hiperaktif adalah suatu pola perilaku seseorang yang menunjukkan sikap tidak mau diam, tidak menaruh perhatian dan impulsif (semaunya sendiri). Anak yang hiperaktif cenderung untuk selalu bergerak, bahkan dalam situasi yang menuntut agar mereka bersikap tenang. Mereka tidak bisa berkonsentrasi dalam waktu beberapa menit saja. Sebentar-sebentar mereka bergerak untuk pindah dari permainan yang satu ke permainan yang lain. Hal ini disebabkan karena mereka merasa tidak puas dengan kegiatan yang dilakukannya.
 Menurut Dr. Erik Taylor, perbedaan jenis kelamin dapat menentukan peluang seorang anak untuk berperilaku hiperaktif. Anak laki-laki mempunyi kemungkinan 3 sampai 4 kali lebih besar untuk menjadi hiperaktif dibanding anak perempuan. Karena masalah yang biasanya menyertei hiperaktivitas (misal sifat agresif) pada anak perempuan tidak begitu berkembang.
Anak Anda Hiperaktif ?
Seringkali orang tua terlalu dini untuk menilai anaknya hiperaktif. Vonis ini dijatuhkan begitu melihat keaktifan anaknya yang melebihi anak lain. Padahal belum tentu demikian. Dr. Erik Taylor membagi perilaku aktif yang berlebihan menjadi 3, yaitu :
1. Overaktivitas, yaitu perilaku anak yang tidak mau diam yang disebabkan kelebihan energi. Hal ini menandakan bahwa anak tersebut sehat, cerdas dan penuh semangat. Tapi overaktifitas sesaat bisa terjadi pada anak yang keaktifannya normal.
2. Hiperaktivitas, yaitu pola perilaku overaktif yang cenderung ngawur (tidak pada tempatnya).
3. Sindrom hiperkinetik, yaitu semua bentuk hiperaktifitas parah, yang menyertai jenis kelambatan lain dalam perkembangan psikologi, misalnya sikap kikuk dan kesulitan bicara. Anak yang berperilaku sangat aktif pada usia 2-3 tahun belum bisa dikatagorikan hiperaktif, karena rentang aktivitas yang dianggap normal masih besar. Baru setelah anak berusia 3 tahun keatas, aktivitas tidak terarahnya akan menurun drastis. Sebab itu, telebih dahulu perhatikanlah dengan seksama, apakah overaktivitas anak hanya karena ia tidak mampu memusatkan perhatiannya terhadap sesuatu lebih dari beberapa menit saja, ataukah ia tidak mampu mengendalikan diri dalam situasi yang menuntutnya untuk bersikap tenang.
Beberapa hal yang dapat menyebabkan perilaku hiperaktif ialah :
1. Kondisi saat hamil & persalinan. Misalnya keracunan pada akhir kehamilan (ditandai dengan tingginya tekanan darah, pembengkakan kaki & ekskresi protein melalui urin), cedera pada otak akibat komplikasi persalinan.
2. Cedera otak sesudah lahir,yang disebabkan oleh benturan kuat pada kepala anak.
3. Tingkat keracunan timbal yang parah dapat mengakibatkan kerusakan otak.Hal ini ditandai dengan kesulitan konsentrasi, belajar dan perilaku hiperaktif. Polusi timbal berasal dari industri peleburan baterai, mobil bekas, asap kendaraan atau cat rumah yang tua. Obat untuk mengeluarkan timbal dari dalam tubuh hanya diberikan dibawah pengawasan dokter bagi anak kadar timbalnya sudah sangat tinggi, karena obat tersebut mempunyai efek samping.
4. Lemah pendengaran, yang disebabkan infeksi telinga sehingga anak tidak dapat mereproduksi bunyi yang didengarnya. Akibatnya, tingkah laku menjadi tidak terkendali & perkembangan bahasanya yang lamban. Segeralah hubungi dokter THT jika anak menunjukkan ciri berikut : perkembangan bahasa yang lambat, lebih banyak memperhatikan mimik lawan bicara & lebih banyak berreaksi terhadap perubahan mimik & isyarat.
5. Faktor psikis, yang lebih banyak dipengaruhi oleh hubungan anak dengan dunia luar. Meskipun jarang, hubungan dengan anggota keluarga dapat pula menjadi penyebab hiperaktivitas. Contoh kasus, orang tua yang bersikap sangat tegas menyuruh anak berdiri 15 menit di pojok ruangan untuk mengatasi ketidakdisiplinannya. Tapi setelah 15 menit berlalu, maka anak malah mempunyai energi berlebih yang siap meledak dengan akibat lebih negativ dibanding kesalahan sebelumnya.
Hal utama dalam mengatasi hiperaktivitas anak adalah hubungan yang baik antara orang tua & anak. Berikut ini beberapa kaidah bagi orang tua dalam berinteraksi dengan anak :
1. Mengidentifikasi segi positif.
Tidak ada anak yang benar-benar berantakan tanpa mempunyai segi positif, sekalipun ia tergolong anak yang hiperaktif. Satu hal yang salah & sering terjadi, bahwa orang tua mengukur segi positif anak dengan saudara sekandung atau teman sebayanya. Perlu disadari bahwa setiap anak mempunyai perkembangan yang berbeda meskipun saudara sekandung. Beberapa peraturan bagi anak dapat dibuat dengan memenuhi syarat berikut : jelas & tidak abstrak, sesuai syar’i, diawali dengan peraturan mudah dalam waktu yang pendek, tidak dengan marah ketika menerangkannya pada anak, sesuai dengan tingkat perkembangan anak dan tidak terlalu banyak.
2. Memberi hadiah
Misalnya jika anak berhasil, yang bersifat : langsung diberikan, menyenang-kan hati anak tanpa keluar dari batas syar’i, konsisten yang berarti diberikan bagi anak yang benar-benar berhasil dan bukan karena rengekan, disampaikan dengan hangat & dibarengai dengan pujian.
3. Sekali waktu mengajak anak menyalurkan energinya di tempat yang lebih luas,
misalnya di taman. Jika orang tua merasa butuh pertolongan, anak bisa dibawa ke klinik spesialis terpadu. Disana anak akan dibantu oleh beberapa ahlinya dalam ilmu penyakit jiwa anak, ilmu jiwa klinik, ilmu jiwa pendidikan, dokter anak & psikoterapis. Bagaimanapun, anak adalah amanah Allah. Tugas orang tua adalah bagaimana memaksimalkan diri dalam membawa mereka menjadi hamba Allah yang shalih. Dan Allah-lah yang akan menentukan hasilnya.

Mengenal Anak Hiperaktif Sejak Dini


cover-buku-anak-hiperaktif.jpg
Judul : Anak Hiperaktif: Cara Cerdas Menghadapi Anak Hiperaktif dan Gangguan Konsentrasi
Penulis : Ferdinand Zaviera
Penerbit : Ar-Ruzz Media – Yogyakarta
Cetakan I : Juni 2007
Tebal : 184 halaman
Semua orang tua pasti menginginkan anaknya lahir dengan selamat dan normal, baik secara fisik, perilaku maupun mental. Namun, bagaimana jadinya jika pada kenyataannya bahwa anak mereka harus mengalami ketidaknormalan. Tidak mudah ketika orang tua harus berhadapan dengan kondisi anak yang seperti ini. Lazimnya seperti halnya gejala autis dan hiperaktif yang sering terjadi pada anak-anak.
Gejala autis dan hiperaktif adalah termasuk gangguan yang disebabkan oleh perkembangan otaknya yang tidak normal. Sehingga membuat pertumbuhan sang anak menjadi tidak biasa. Pada awalnya gangguan seperti ini tidak tampak pada usia batita, baru dapat dipastikan saat menjelang masuk sekolah atau di atas usia 4 atau 5 tahun.
Akan tetapi, tidak semua perhitungan umur seperti ini bisa dijadikan sebagai patokan yang pasti. Karena batasan usia terkena gangguan semacam ini memang bervariasi. Bisa jadi seorang anak justru mengalami gangguan ini pada usia batita. Oleh karena itu orang tua harus selalu waspada dalam menghadapi setiap perkembangan anaknya.
Untuk itu, sepatutnyalah orang tua memiliki pengetahuan yang cukup mengenai gejala gangguan-gangguan yang rawan terjadi pada anak-anak tersebut. Berdasarkan yang demikian itu- sebelum hal-hal tersebut terlanjur terjadi- alangkah baiknya jika anda para orang tua untuk membekali diri salah satunya dengan membaca buku “Anak Hiperaktif; Cara Cerdas Menghadapi Anak Hiperaktif dan Gangguan Konsentrasi” karya Ferdinand Zaviera, pria keturunan Jawa-Inggris ini.
Setelah lulus dari salah satu Perguruan Tinggi yang ada di Yogyakarta tahun 2003, penulis belajar mengembangkan diri dengan mengikuti berbagai pelatihan dan kemudian terjun ke dunia anak-anak. Kecintaannya kepada anak-anak mendorong dia untuk menulis buku ini. Ditambah beberapa naskah variatif lainnya yang masih tentang seputar dunia anak-anak.
Lewat buku ini orang tua akan diantarkan untuk dapat memahami dan mengerti bagaimana hiperaktif dan gangguan konsentrasi itu, serta bagaimana cara menghadapinya. Sehingga bila anaknya menampakkan gangguan seperti ini, orang tua bisa langsung tanggap dan memberikan langkah-langkah yang tepat dan benar.
Selama ini masih banyak orang tua yang tidak faham akan gejala-gejala gangguan tersebut. Sampai-sampai melakukan kesalahan dalam menilai perkembangan anak. Misalnya, terburu-buru melabeli (menjuluki) anaknya sebagai anak yang nakalyang suka bikin onar. Sikap yang keliru seperti inilah yang hanya akan menambah parah perkembangan jiwa dan juga bahkan fisiknya. Padahal, segala perilaku anak yang mengalami gangguan tersebut bukanlah keinginan sang anak. Tetapi karena memang ada gangguan pada saraf dan otaknya.
Sekilas memang sulit untuk membedakan mana anak yang termasuk mengalami gangguan, dan mana anak yang tidak termasuk mengalami gangguan. Pada dasarnya balita yang aktif adalah wajar, karena inilah usia di mana anak sedang giat-giatnya mengeksplorasi lingkungannya. “Dalam rentang usia itu balita berada dalam fase otonomi atau mencari rasa puas melalui aktivitas geraknya. Tapi lain halnya kalau ia terlalu aktif atau malah hiperaktif, maka tentu saja ini tidak wajar” tegas dr. Dwijo Saputro, psikiater anak dan pimpinan “SmartKid”, klinik perkembangan anak dan kesulitan belajar di Jakarta.
Tapi sekarang, dengan hadirnya buku “Anak Hiperaktif; Cara Cerdas Menghadapi Anak Hiperaktif dan Gangguan Konsentrasi” ini, orang tua tidak perlu cemas mengalami kesulitan lagi untuk mengenal anak hiperaktif sejak dini. Secara umum dapat diamati bahwa cirri-ciri anak hiperaktif adalah anak yang cenderung selalu mengganggu  teman, tidak bisa diam, kemampuan akademik tidak optimal, kecerobohan dalam hubungan sosial, sikap melanggar tata tertib secara implusif, serta mengalami kesulitan konsentrasi dalam belajar. Kemungkinan cirri-ciri perilaku seperti ni akan mewarnai berbagai situasi dan dapat berlanjut hingga dewasa jika tidak segera diobati.
Gangguan hiperaktif ini secara luas di masyarakat dikenal sebagai turunan dari “Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD)”. Apabila gangguan ADHD/hiperaktif ini tidak diobati, maka pada akhirnya akan menimbulkan hambatan penyesuaian perilaku sosial dan kemampuan akademik di lingkungan rumah dan sekolah. Akibatnya perkembangan anak menjadi tidak tidak optimal dengan timbulnya gangguan perilaku dikemudian hari.
Untuk itu, buku ini sangat cocok dan penting untuk dijadikan sebagai buku panduan bagi orang tua agar dapat mengenali lebih dini gangguan-gangguan semacam itu. Karena pada dasarnya penanganan anak penderita hiperaktif (ADHD) dalam bentuk terapi perilaku atau obat tidak akan memberikan hasil yang maksimal jika tidak ditunjang oleh sikap kedua orang tuanya. Sikap kasih sayang dan perhatian yang cukup, serta mampu memahami kondisi si anak berdasarkan gangguan yang ia alami.

Mengenal dan Membimbing Anak Hiperaktif

Apa sebenarnya yang disebut hiperaktif itu ? Gangguan hiperaktif sesungguhnya sudah dikenal sejak sekitar tahun 1900 di tengah dunia medis. Pada perkembangan selanjutnya mulai muncul istilah ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity disorder). Untuk dapat disebut memiliki gangguan hiperaktif, harus ada tiga gejala utama yang nampak dalam perilaku seorang anak, yaitu inatensi, hiperaktif, dan impulsif.
Inatensi
Inatensi atau pemusatan perhatian yang kurang dapat dilihat dari kegagalan seorang anak dalam memberikan perhatian secara utuh terhadap sesuatu. Anak tidak mampu mempertahankan konsentrasinya terhadap sesuatu, sehingga mudah sekali beralih perhatian dari satu hal ke hal yang lain.


Hiperaktif
Gejala hiperaktif dapat dilihat dari perilaku anak yang tidak bisa diam. Duduk dengan tenang merupakan sesuatu yang sulit dilakukan. Ia akan bangkit dan berlari-lari, berjalan ke sana kemari, bahkan memanjat-manjat. Di samping itu, ia cenderung banyak bicara dan menimbulkan suara berisik.
Impulsif
Gejala impulsif ditandai dengan kesulitan anak untuk menunda respon. Ada semacam dorongan untuk mengatakan/melakukan sesuatu yang tidak terkendali. Dorongan tersebut mendesak untuk diekspresikan dengan segera dan tanpa pertimbangan. Contoh nyata dari gejala impulsif adalah perilaku tidak sabar. Anak tidak akan sabar untuk menunggu orang menyelesaikan pembicaraan. Anak akan menyela pembicaraan atau buru-buru menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan. Anak juga tidak bisa untuk menunggu giliran, seperti antri misalnya. Sisi lain dari impulsivitas adalah anak berpotensi tinggi untuk melakukan aktivitas yang membahayakan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
Selain ketiga gejala di atas, untuk dapat diberikan diagnosis hiperaktif masih ada beberapa syarat lain. Gangguan di atas sudah menetap minimal 6 bulan, dan terjadi sebelum anak berusia 7 tahun. Gejala-gejala tersebut muncul setidaknya dalam 2 situasi, misalnya di rumah dan di sekolah.
Problem-problem yang biasa dialami oleh anak hiperaktif
Problem di sekolah
Anak tidak mampu mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru dengan baik. Konsentrasi yang mudah terganggu membuat anak tidak dapat menyerap materi pelajaran secara keseluruhan. Rentang perhatian yang pendek membuat anak ingin cepat selesai bila mengerjakan tugas-tugas sekolah. Kecenderungan berbicara yang tinggi akan mengganggu anak dan teman yang diajak berbicara sehingga guru akan menyangka bahwa anak tidak memperhatikan pelajaran. Banyak dijumpai bahwa anak hiperaktif banyak mengalami kesulitan membaca, menulis, bahasa, dan matematika. Khusus untuk menulis, anak hiperaktif memiliki ketrampilan motorik halus yang secara umum tidak sebaik anak biasa
Problem di rumah
Dibandingkan dengan anak yang lain, anak hiperaktif biasanya lebih mudah cemas dan kecil hati. Selain itu, ia mudah mengalami gangguan psikosomatik (gangguan kesehatan yang disebabkan faktor psikologis) seperti sakit kepala dan sakit perut. Hal ini berkaitan dengan rendahnya toleransi terhadap frustasi, sehingga bila mengalami kekecewaan, ia gampang emosional. Selain itu anak hiperaktif cenderung keras kepala dan mudah marah bila keinginannya tidak segera dipenuhi. Hambatan-hambatan tersbut membuat anak menjadi kurang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Anak dipandang nakal dan tidak jarang mengalami penolakan baik dari keluarga maupun teman-temannya. Karena sering dibuat jengkel, orang tua sering memperlakukan anak secara kurang hangat. Orang tua kemudian banyak mengontrol anak, penuh pengawasan, banyak mengkritik, bahkan memberi hukuman. Reaksi anakpun menolak dan berontak. Akibatnya terjadi ketegangan antara orang tua dengan anak. Baik anak maupun orang tua menjadi stress, dan situasi rumahpun menjadi kurang nyaman. Akibatnya anak menjadi lebih mudah frustrasi. Kegagalan bersosialisasi di mana-mana menumbuhkan konsep diri yang negatif. Anak akan merasa bahwa dirinya buruk, selalu gagal, tidak mampu, dan ditolak.
Problem berbicara
Anak hiperaktif biasanya suka berbicara. Dia banyak berbicara, namun sesungguhnya kurang efisien dalam berkomunikasi. Gangguan pemusatan perhatian membuat dia sulit melakukan komunikasi yang timbal balik. Anak hiperaktif cenderung sibuk dengan diri sendiri dan kurang mampu merespon lawan bicara secara tepat.
Problem fisik
Secara umum anak hiperaktif memiliki tingkat kesehatan fisik yang tidak sebaik anak lain. Beberapa gangguan seperti asma, alergi, dan infeksi tenggorokan sering dijumpai. Pada saat tidur biasanya juga tidak setenang anak-anak lain. Banyak anak hiperaktif yang sulit tidur dan sering terbangun pada malam hari. Selain itu, tingginya tingkat aktivitas fisik anak juga beresiko tinggi untuk mengalami kecelakaan seperti terjatuh, terkilir, dan sebagainya.
Berikut ini adalah faktor-faktor penyebab hiperaktif pada anak :
Faktor neurologik
Insiden hiperaktif yang lebih tinggi didapatkan pada bayi yang lahir dengan masalah-masalah prenatal seperti lamanya proses persalinan, distres fetal, persalinan dengan cara ekstraksi forcep, toksimia gravidarum atau eklamsia dibandingkan dengan kehamilan dan persalinan normal. Di samping itu faktor-faktor seperti bayi yang lahir dengan berat badan rendah, ibu yang terlalu muda, ibu yang merokok dan minum alkohol juga meninggikan insiden hiperaktif
Terjadinya perkembangan otak yang lambat. Faktor etiologi dalam bidang neuoralogi yang sampai kini banyak dianut adalah terjadinya disfungsi pada salah satu neurotransmiter di otak yang bernama dopamin. Dopamin merupakan zat aktif yang berguna untuk memelihara proses konsentrasi
Beberapa studi menunjukkan terjadinya gangguan perfusi darah di daerah tertentu pada anak hiperaktif, yaitu di daerah striatum, daerah orbital-prefrontal, daerah orbital-limbik otak, khususnya sisi sebelah kanan
Faktor toksik
Beberapa zat makanan seperti salisilat dan bahan-bahan pengawet memilikipotensi untuk membentuk perilaku hiperaktif pada anak. Di samping itu, kadar timah (lead) dalam serum darah anak yang meningkat, ibu yang merokok dan mengkonsumsi alkohol, terkena sinar X pada saat hamil juga dapat melahirkan calon anak hiperaktif.
Faktor genetik
Didapatkan korelasi yang tinggi dari hiperaktif yang terjadi pada keluarga dengan anak hiperaktif. Kurang lebih sekitar 25-35% dari orang tua dan saudara yang masa kecilnya hiperaktif akan menurun pada anak. Hal ini juga terlihat pada anak kembar.
Faktor psikososial dan lingkungan
Pada anak hiperaktif sering ditemukan hubungan yang dianggap keliru antara orang tua dengan anaknya.
Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mendidik dan membimbing anak-anak mereka yang tergolong hiperaktif :
Orang tua perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktifitas
Kenali kelebihan dan bakat anak
Membantu anak dalam bersosialisasi
Menggunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif (misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib), memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak
Memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya
Menerima keterbatasan anak
Membangkitkan rasa percaya diri anak
Dan bekerja sama dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi anak yang sebenarnya
Disamping itu anak bisa juga melakukan pengelolaan perilakunya sendiri dengan bimbingan orang tua. Contohnya dengan memberikan contoh yang baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orang tua mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orang tua sebelumnya.

Mengapa Anak Autis Tak Mau Dipeluk?

cacat pada otak ternyata menjelaskan mengapa banyak anak autis menghindar ketika disentuh atau dipeluk -bahkan oleh orangtua mereka sendiri. Penelitian ini telah menunjukkan, ada masalah yang mempengaruhi individu dengan Sindrom Fragile X yang rentan, dan terkenal sebagai gen penyebab autisme dan pewaris keterbelakangan mental.

Para ilmuwan menemukan Fragile X hasil dari pengembangan penundaan sensorik korteks, daerah otak yang merespons untuk disentuh. Efek domino ini dipicu oleh penundaan yang menyebabkan bagian dari otak menjadi salah. Fragile X disebabkan oleh mutasi gen di kromosom X wanita yang mempengaruhi pembangunan sinapsis, sebagai poin vital hubungan antara sel saraf.
Karena anak laki-laki hanya memiliki satu kromosom X, mereka sangat dipengaruhi oleh sindrom ini dibandingkan anak perempuan. Perempuan memiliki dua kromosom X, sehingga tak terlalu bermasalah jika ada yang rusak. Sampai batas tertentu dapat dikompensasikan oleh yang lain. Anak laki-laki umumnya lebih mungkin rentan berkembang autis dibandingkan anak perempuan.
"Ada periode kritis selama perkembangan akhir ketika otak sangat rentan dan berubah dengan cepat," kata pemimpin studi Dr Anis Contractor, dari Northwestern University Feinberg School of Medicine di Chicago. "Semua elemen ini berkembang cepat dan dikoordinasikan sehingga otak menjadi saluran kabel yang benar dan karena itu fungsinya benar."
Contractor mengatakan, anak dengan sindrom ini akan menderita dengan masalah "taktik pembelaan diri" dan akhirnya menjadi cemas dan menarik diri secara sosial. "Mereka tidak bisa menatap mata orang, mereka tidak akan memeluk orang tua mereka, dan mereka sangat peka terhadap sentuhan dan bunyi. Semua ini menyebabkan kecemasan bagi keluarga dan teman-temannya dan juga untuk penderita Fragile X itu sendiri. Sekarang pertama kali kita memiliki pemahaman tentang apa yang tidak beres di dalam otak."

Hormon Cinta untuk Gejala Autisme

Sebuah penelitian dari Lyon Perancis menyebutkan sebuah hormon cinta yang mengikat ibu dan anak dimungkinkan untuk menolong orang dewasa dengan Autisme.

Penelitian dilakukan oleh Angela Sirigu dari Pusat Ilmu Syaraf Cognitive dan timnya. Sebanyak 13 orang dewasa, 11 diantaranya laki-laki yang mempunyai gangguan perilaku autis diteliti dalam dua eksperimen. Sebelumnya mereka tidak diberikan pengobatan selama dua minggu dan diawasi kesehatannya secara setara.

Menurut periset kepada Journal Proceeding Akademi Science Nasional mereka menemukan pasien yang menghirup hormon oxytocin memperhatikan dan berekspresi ketika melihat gambar wajah dan lebih seperti mengerti isyarat sosial pada sebuah simulasi permainan.

"Jika oxytocin diatur lebih awal ketika diagnosis dibuat, kami mungkin dapat mengubah lebih awal gangguan pengembangan sosial dari pasien autis," ujar Sirigu.

Sirigu mengatakan studi difokuskan pada oxytocin karena telah dikenal menolong ikatan ibu dan bayi mereka saat menyusui. Juga karena penelitian lebih awal menunjukkan bahwa anak-anak dengan autisme mempunyai tingkat hormon yang rendah. Orang dengan sindrom Asperger dan gangguan spektruk autis lainnya sering mempunyai masalah dengan interaktsi sosial.

Perempuan ini juga mengatakan Oxytocin dapat menolong pasien autis yang memiliki fungsi intelektual normal dan kemampuan bahasa yang lumayan baik karena kemajuan kontak mata.

"Kontak mata dapat dipertimbangkan sebagai langkah awal dari pendekatan sosial," ujarnya, Tetapi orang dengan autisme sering terganggu melihat lainnya.

"Dalam studi kami menunjukkan bahwa oxytocin mempertinggi waktu kontak mata lebih lama melihat pada mata," ujarnya lagi.

Dia mengatakan hormon juga memperbaiki kemampuan pasien autisme untuk memahami bagaimana orang lain merespon mereka. Mereka dapat mempelajari respon yang cocok pada perilaku yang lain pula.

Para peneliti melihat pasien merespon lontaran bola dalam permainan virtual untuk mengukur perubahan perilaku. Dalam percobaan terpisah, tim Sirigu mengukur bagaimana pasien merespon ekspresi wajah ketika melihat gambar dari wajah manusia.

Terapi Musik Dorong Perubahan Positif Autisme

TERAPI musik tidak hanya berfungsi memfasilitasi perubahan positif pada perilaku manusia dewasa tetapi juga mempunyai pengaruh positif pada anak penderita autisme. Musik, menurut penelitian berperan sebagai rangsangan luar yang membuat anak nyaman, karena tidak terlibat kontak langsung dengan manusia.

Manfaat terapi

Meningkatkan perkembangan emosi sosial anak. Saat memulai suatu hubungan, anak autisme cenderung secara fisik mengabaikan atau menolak kontak sosial yang ditawarkan oleh orang lain. Dan terapi musik membantu menghentikan penarikan diri ini dengan cara membangun hubungan dengan benda, dalam hal ini instrumen musik.

Anak-anak autisme, berdasarkan hasil studi, melihat alat musik sebagai sesuatu yang menyenangkan. Anak-anak ini biasanya sangat menyukai bentuk, menyentuh dan juga bunyi yang dihasilkan. Karena itu, peralatan musik ini bisa menjadi perantara untuk membangun hubungan antara anak  autisme dengan individu lain.

Membantu komunikasi verbal dan nonverbal. Terapi musik juga bisa membantu kemampuan berkomunikasi anak dengan cara meningkatkan produksi vokal dan pembicaraan serta menstimulasi proses mental dalam hal memahami dan mengenali. Terapis akan berusaha menciptakan hubungan komunikasi antara perilaku anak dengan bunyi tertentu. 

Anak autisme biasanya lebih mudah mengenali dan lebih terbuka terhadap bunyi dibandingkan pendekatan verbal. Kesadaran musik ini dan hubungan antara tindakan anak dengan musik, berpotensi mendorong terjadinya komunikasi.

Mendorong pemenuhan emosi. Sebagian besar anak autisme kurang mampu merespon rangsangan yang seharusnya bisa membantu mereka merasakan emosi yang tepat. Tapi, karena anak autisme bisa merespon musik dengan baik, maka terapi musik bisa membantu anak dengan menyediakan lingkungan yang bebas dari rasa takut.

Selama mengikuti sesi terapi, setiap anak mempunyai kebebasan untuk mengekspresikan diri saat mereka ingin, sesuai dengan cara mereka sendiri. Mereka bisa membuat keributan, memukul instrumen, berteriak dan mengekspresikan kesenangan akan kepuasan emosi. Selain itu, terapi musik juga membantu anak autisme dengan:


  • Mengajarkan keahlian sosial
  • Meningkatkan pemahaman bahasa
  • Mendorong hasrat berkomunikasi
  • Mengajarkan anak mengekpresikan diri secara kreatif
  • Mengurangi pembicaraan yang tidak komunikatif
  • Mengurangi pengulangan kata yang diucapkan orang lain secara instan dan tidak terkontrol.

Sesi terapi

Terapi musik akan dirancang, dijalankan, dan dievaluasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Selama terapi anak akan dilibatkan dalam beberapa aktivitas seperti:

  • Mendengarkan musik atau kreasi musik
  • Memainkan alat musik
  • Bergerak mengikuti irama musik
  • Bernyanyi (ol-08)